Pengantar: Pesona Warna-Warni Betawi

Di antara sederet kuliner legendaris Betawi — Kerak Telor, Soto Betawi, Nasi Uduk — ada satu minuman yang mungkin belum setenar saudara-saudaranya, namun menyimpan keistimewaan tersendiri: Es Selendang Mayang. Minuman ini bukan sekadar pelepas dahaga; ia adalah potret budaya Betawi yang terwujud dalam warna-warni cerah, tekstur kenyal, dan perpaduan rasa manis gula merah dengan gurihnya santan.

Bayangkan sebuah mangkuk berisi potongan-potongan gelatin dari tepung beras berwarna merah, hijau, dan putih, tenggelam dalam santan kental yang dingin, lalu disiram gula merah cair yang karamel kecokelatan. Saat disantap, setiap suapan menghadirkan tiga lapis rasa sekaligus: kenyal dari adonan tepung, gurih dari santan, dan manis legit dari gula merah.

Tampilan Es Selendang Mayang dari dekat dengan warna merah, hijau, dan putih
Tampilan khas Es Selendang Mayang dengan tiga warna utama: merah, hijau, dan putih. Foto: IDN Times

Namun di balik kelezatannya, Es Selendang Mayang menyimpan cerita yang lebih dalam. Minuman ini merupakan witness (saksi) perjalanan budaya Betawi yang semakin terdesak oleh modernisasi Jakarta. Semakin sulit menemukan penjual Selendang Mayang di pinggir jalan — menjadikannya bukan hanya sekadar minuman, tapi juga warisan yang perlu dilestarikan.

Asal-Usul dan Filosofi Nama

Jejak Historis

Es Selendang Mayang berkembang di lingkungan masyarakat Betawi sejak era kolonial Belanda. Minuman ini lahir dari kreativitas perempuan-perempuan Betawi dalam mengolah bahan-bahan sederhana yang tersedia di sekitar mereka: tepong beras (tepung beras), santan, gula merah, dan pewarna alami dari tumbuhan.

Pada masanya, Selendang Mayang merupakan minuman yang biasa disajikan dalam acara-acara adat Betawi seperti pernikahan, sunatan, syukuran, dan berbagai perayaan kampung. Keberadaannya menjadi penanda bahwa sebuah acara memiliki nuansa Betawi yang autentik.

Makna di Balik Nama

Nama "Selendang Mayang" bukan sekadar metafora estetik. Kedua kata ini memiliki makna mendalam dalam kosakata Betawi:

  • Selendang — kain panjang yang dikenakan oleh perempuan Betawi, melambangkan keanggunan dan keindahan. Bentuk adonan tepung yang dipotong memanjang menyerupai lipatan selendang.
  • Mayang — dalam bahasa Betawi dan Melayu, mayang merujuk pada kuntum bunga kelapa yang masih muda, atau secara lebih luas berarti sesuatu yang indah, segar, dan harum. Dalam konteks budaya Betawi, "mayang" sering dikaitkan dengan simbol kemudaan dan keindahan alam.

"Selendang Mayang — selendang yang seindah kuntum mayang. Namanya sendiri sudah puisi." — Ustadz Somad, budayawan Betawi.

Jadi, Es Selendang Mayang secara harfiah dapat diartikan sebagai "minuman dingin yang bentuknya menyerupai selendang dan seindah kuntum mayang." Nama ini mencerminkan bagaimana orang Betawi melihat keindahan dalam hal-hal sederhana — sebuah filosofi yang termanifestasi dalam setiap mangkuk Selendang Mayang yang disajikan.

Tahukah Kamu?

Dalam budaya Betawi, warna pada Selendang Mayang bukan sekadar dekorasi. Warna merah melambangkan keberanian dan semangat, hijau melambangkan kesuburan dan harapan, sedangkan putih melambangkan kesucian dan kejujuran. Ketiganya mencerminkan karakter orang Betawi yang diharapkan memiliki sifat-sifat tersebut.

Bahan-Bahan Es Selendang Mayang

Keindahan Es Selendang Mayang terletak pada kesederhanaan bahannya. Semua bahan mudah didapatkan dan sepenuhnya alami — tidak ada pewarna sintetis, pengawet, atau bahan kimia.

A. Adonan Tepung Beras (Selendang)

🌾
Tepung beras — 200 gram. Bahan utama yang memberikan tekstur kenyal dan sedikit lengket.
💧
Air — 600 ml. Untuk mencampur dan memasak tepung.
🧂
Garam — ¼ sendok teh. Menyeimbangkan rasa manis.
🌸
Pewarna merah alami — dari air rebusan rosella (kembang sepatu) atau bit.
🍃
Pewarna hijau alami — dari air perasan daun suji atau daun pandan.
Pewarna putih — adonan tanpa pewarna, mempertahankan warna alami tepung beras.

B. Santan

🥥
Santan kental — 500 ml dari 1 butir kelapa parut.
🧂
Garam — ½ sendok teh. Penting untuk memberi rasa gurih pada santan.
🌿
Daun pandan — 2 lembar, diikat simpul. Memberikan aroma harum khas.

C. Gula Merah Cair (Saus)

🟤
Gula merah — 200 gram, disisir halus.
💧
Air — 150 ml.
🌿
Daun pandan — 1 lembar, untuk aroma.
🧂
Garam — sejumput kecil.

Catatan Penting

Penjual Selendang Mayang tradisional secara ketat menggunakan pewarna alami, bukan pewarna makanan buatan. Ini yang membedakan Selendang Mayang asli dengan versi "instant" yang banyak dijual di pasar modern. Warna dari pewarna alami cenderung lebih soft (lembut) dibanding pewarna sintetis yang mencolok.

Cara Membuat Es Selendang Mayang

Membuat Es Selendang Mayang membutuhkan sedikit kesabaran dan kehati-hatian, terutama dalam proses memasak tepung dan menggelletuki adonan. Berikut langkah-langkah lengkapnya:

Langkah 1: Siapkan Pewarna Alami

  1. Pewarna merah: Rebus 5-7 kuntum bunga rosella dalam 100 ml air selama 5 menit. Saring dan simpan airnya.
  2. Pewarna hijau: Blender 10 lembar daun suji dengan 100 ml air. Saring dan simpan airnya.

Langkah 2: Buat Adonan Tepung

  1. Campur tepung beras dengan air sedikit demi sedikit sambil diaduk hingga tidak menggumpal.
  2. Bagi adonan menjadi 3 bagian sama rata.
  3. Tambahkan pewarna merah ke adonan pertama, hijau ke adonan kedua, dan biarkan adonan ketiga tetap putih.
  4. Masak masing-masing adonan di atas api sedang sambil terus diaduk hingga mengental dan mengkilap (sekitar 10-15 menit per warna). Ini adalah tahap krusial — adonan harus benar-benar matang agar tidak berlendir.

Langkah 3: Geletuki Adonan

Inilah tahap yang membedakan Selendang Mayang dari jajanan tepung lainnya:

  1. Siapkan sebuah wadah berisi air dingin (bisa ditambah es batu).
  2. Ambil sedikit adonan yang sudah dimasak, masukkan ke dalam cetakan geletuk — alat khusus berupa piring kecil berlubang di bagian bawah, atau secara tradisional menggunakan kerangkan kelapa yang dipukul-pukulkan.
  3. Tekan adonan melalui lubang cetakan ke dalam air dingin. Adonan akan membentuk serabut-serabut memanjang yang langsung mengeras saat menyentuh air dingin.
  4. Lakukan untuk ketiga warna secara terpisah.
  5. Tiriskan dan potong-potong sesuai selera.
Proses membuat selendang mayang dengan cetakan geletuk
Proses "geletuk" — adonan ditekan melalui cetakan ke dalam air dingin membentuk serabut memanjang. Foto: Grid.id

Langkah 4: Masak Santan

  1. Masak santan dengan garam dan daun pandan di atas api sedang.
  2. Aduk terus agar santan tidak pecah.
  3. Masak hingga mendidih, lalu angkat dan dinginkan.

Langkah 5: Buat Saus Gula Merah

  1. Rebus gula merah, air, daun pandan, dan garam hingga gula larut dan sedikit mengental.
  2. Saring dan dinginkan.

Langkah 6: Penyajian

  1. Tata potongan selendang mayang berwarna-warni dalam mangkuk atau gelas.
  2. Tuangkan santan dingin.
  3. Tambahkan es batu sesuai selera.
  4. Siram dengan gula merah cair di atasnya.
  5. Es Selendang Mayang siap disantap!

Profil Cita Rasa

Es Selendang Mayang menawarkan pengalaman rasa yang berlapis, yang jarang ditemui dalam minuman modern:

🫠

Tekstur Kenyal

Adonan tepung beras memberikan sensasi kenyal yang mirip dengan kue, tapi lebih lembut dan mudah dikunyah.

🥥

Santan Gurih

Santan kental yang dingin memberikan rasa gurih dan creamy yang menjadi "base" minuman ini.

🟤

Gula Merah Legit

Gula merah cair memberikan rasa manis yang khas, tidak sekadar manis tapi ada depth dan aroma karamel.

Ketiga elemen ini menciptakan harmoni rasa yang sulit dijelaskan dengan kata-kata — harus dicoba langsung. Yang menarik, rasa adonan tepung dari ketiga warna sebenarnya sama (karena pewarna alami tidak mengubah rasa secara signifikan), sehingga perbedaan hanya pada visualnya. Namun justru di situlah letak keunikannya: indah dipandang, nikmat disantap.

Di Mana Menemukan Es Selendang Mayang

Di era 1990-an hingga awal 2000-an, Es Selendang Mayang masih mudah ditemui di berbagai sudut Jakarta. Namun seiring waktu, jumlah penjualnya semakin menurun drastis. Berikut beberapa tempat yang masih menjadi "surga" bagi pencinta Selendang Mayang:

Kawasan Kota Tua Jakarta

Kota Tua Jakarta

Area sekitar Taman Fatahillah dan Museum Wayang masih memiliki beberapa penjual Selendang Mayang keliling.

Pasar Tebet

Pasar-Pasar Tradisional

Pasar Tebet, Pasar Kramat Jati, dan pasar-pasar lain di kawasan Jakarta Selatan dan Timur.

Festival Budaya Betawi

Festival Budaya Betawi

Pekan Raya Jakarta, Festival Betawi, dan acara budaya Betawi lainnya selalu menyediakan Selendang Mayang.

Kampung-Kampung Betawi

Kawasan Condet, Setu Babakan, dan kampung-kampung Betawi di Jakarta Selatan dan Timur.

Tips Mencari

  • Waktu terbaik mencari: siang hingga sore hari (pukul 10.00-16.00) saat penjual keliling beroperasi.
  • Harga berkisar Rp5.000 - Rp15.000 per porsi, tergantung lokasi dan ukuran.
  • Cari penjual yang menggunakan cetakan geletuk tradisional — ini tanda bahwa Selendang Mayang dibuat secara autentik.
  • Ikuti akun-akun food hunter Jakarta di Instagram yang sering membagikan lokasi penjual Selendang Mayang.

Mengapa Es Selendang Mayang Semakin Langka?

Penurunan jumlah penjual Es Selendang Mayang bukan tanpa alasan. Ada beberapa faktor yang menyebabkan minuman ini semakin sulit ditemui:

1. Proses Pembuatan yang Rumit

Berdasarkan penjelasan di atas, jelas bahwa membuat Selendang Mayang bukan hal yang simpel. Proses "geletuk" saja sudah membutuhkan keterampilan khusus yang hanya dimiliki oleh generasi tua Betawi. Bandingkan dengan membuat es teh manis yang hanya butuh 2 menit — dari sisi efisiensi bisnis, Selendang Mayang jelas kalah.

2. Generasi Penerus yang Menurun

Anak-anak dan cucu-cucu penjual Selendang Mayang zaman dahulu kini lebih memilih profesi lain yang dianggap lebih "modern" dan menjanjikan. Ilmu membuat Selendang Mayang — termasuk rahasia proporsi tepung, teknik geletuk, dan cara membuat pewarna alami — banyak yang tidak terwariskan.

3. Gempuran Minuman Kekinian

Boba tea, Thai tea, es krim Korea, dan berbagai minuman kekinian lainnya membanjiri Jakarta dengan margin keuntungan yang jauh lebih besar dan proses produksi yang lebih mudah. Penjual minuman tradisional semakin tergeser dari pasar.

4. Urbanisasi dan Perubahan Kampung

Banyak kampung Betawi yang berubah menjadi perumahan, perkantoran, atau pusat perbelanjaan. Tempat-tempat yang dulu menjadi "habitat" penjual Selendang Mayang perlahan menghilang dari peta Jakarta.

"Dulu tiap keliling kampung pasti ada yang jual Selendang Mayang. Sekarang, cari aja susah. Ini yang bikin sedih — budaya kita sendiri yang hilang di tengah kota kita sendiri." — Ibu Maryam, penjual Selendang Mayang di kawasan Condet.

Eksistensi di Era Modern

Meski menghadapi tantangan berat, Es Selendang Mayang tidak sepenuhnya menghilang. Ada beberapa upaya yang dilakukan untuk menjaga eksistensinya:

Festival dan Pameran Budaya

Setiap tahun, Pekan Raya Jakarta (PRJ) dan berbagai festival Betawi selalu menyediakan stan Selendang Mayang. Ini menjadi salah satu cara agar generasi muda bisa mencicipi dan mengenal minuman ini.

Kampung Budaya Setu Babakan

Di Setu Babakan, Srengseng Sawah, Jakarta Selatan — yang dikenal sebagai "kampung wisata budaya Betawi" — pengunjung bisa menemukan Selendang Mayang yang dibuat secara tradisional oleh para perempuan Betawi setempat.

Sosial Media dan Konten Kreator

Beberapa food blogger dan kreator konten Jakarta mulai mengangkat Es Selendang Mayang dalam konten mereka. Hal ini membantu meningkatkan awareness generasi muda terhadap keberadaan minuman ini.

Inovasi Resep

Ada upaya-upaya kreatif untuk memodernisasi Selendang Mayang tanpa kehilangan esensinya, seperti:

  • Menambahkan topping modern seperti cincau, nata de coco, atau potongan buah.
  • Membuat versi "Selendang Mayang Cup" yang lebih praktis dibawa.
  • Mengombinasikannya dengan es krim sebagai dessert fusion.

Meskipun ada pendapat yang menyebut modifikasi ini bisa "merusak" keaslian, banyak juga yang melihatnya sebagai strategi bertahan hidup yang wajar dalam evolusi kuliner.

Selendang Mayang yang masih dijajakan di pinggir jalan Jakarta
Penjual Es Selendang Mayang tradisional yang masih bertahan di pinggir jalan Jakarta. Foto: Detik

Pertanyaan Umum

Apa itu Es Selendang Mayang?

Es Selendang Mayang adalah minuman tradisional khas Betawi yang terbuat dari tepung beras yang dibentuk seperti selendang berwarna-warni melalui proses "geletuk", kemudian disajikan dengan santan kental dan gula merah cair sebagai sausnya.

Dari mana asal nama Selendang Mayang?

Nama "Selendang Mayang" berasal dari bentuknya yang menyerupai selendang (kain panjang perempuan Betawi) dan "mayang" yang berarti kuntum bunga kelapa yang melambangkan keindahan. Secara harfiah berarti "selendang yang seindah kuntum mayang".

Berapa harga Es Selendang Mayang?

Harga Es Selendang Mayang berkisar antara Rp5.000 hingga Rp15.000 per porsi, tergantung lokasi penjualan dan ukuran porsi. Di area wisata seperti Kota Tua biasanya sedikit lebih mahal.

Di mana bisa menemukan Es Selendang Mayang?

Di Jakarta, Es Selendang Mayang bisa ditemukan di kawasan Kota Tua, pasar-pasar tradisional (Tebet, Kramat Jati), kampung-kampung Betawi (Condet, Setu Babakan), serta dalam festival-festival budaya Betawi seperti Pekan Raya Jakarta.

Apakah Selendang Mayang halal?

Ya. Selendang Mayang terbuat dari tepung beras, santan, gula merah, dan pewarna alami — semuanya bahan yang halal. Tidak ada bahan haram yang digunakan dalam resep tradisionalnya.

Bagaimana cara membuat Es Selendang Mayang?

Tepung beras dicampur air, dibagi tiga, diberi pewarna alami (rosella untuk merah, daun suji untuk hijau), dimasak hingga kental, lalu digeletuki melalui cetakan khusus ke dalam air dingin. Disajikan dengan santan dan gula merah cair. Detail lengkapnya ada di bagian "Cara Membuat" di atas.

💬 Pesan Penulis

Es Selendang Mayang bukan sekadar minuman. Ia adalah cermin budaya Betawi — sederhana namun penuh makna, berwarna-warni namun tidak mencolok, manis namun tidak berlebihan. Di tengah derunya Jakarta modern yang serba cepat dan instan, Selendang Mayang mengingatkan kita bahwa ada keindahan dalam kesabaran, ada nilai dalam proses, dan ada warisan yang tak ternilai dalam setiap mangkuk yang dihasilkan dari tangan-tangan terampil generasi terdahulu. Jika kamu menemukan penjual Selendang Mayang di pinggir jalan — berhentilah, belilah, dan nikmatilah. Karena kamu tidak hanya membeli minuman, kamu ikut melestarikan sejarah.