Ujung Menteng adalah salah satu kawasan tertua di Jakarta Pusat yang masih mempertahankan karakter kampung Betawi. Terletak di sebelah utara/timur laut dari kawasan Pasar Senen, daerah ini dipenuhi gang-gang sempit, rumah penduduk padat, dan — yang paling penting — jajanan kaki lima otentik yang sudah ada sejak puluhan tahun.
🏘️ Berbeda dengan Monas yang penuh wisatawan dan food vlogger, Ujung Menteng adalah dunia nyata warga Betawi. Kerak telor Bang Ade di sini bukan "destinasi kuliner" — ia adalah jajanan tetangga yang kebetulan sudah sangat terkenal.
Bang Ade (bukan "Abang" — panggilan "Bang" lebih akrab dan kampungan) adalah pedagang kerak telor yang sudah mangkal di kawasan Ujung Menteng sekitar 25 tahun lamanya. Ia bukan anak Betawi asli yang pindah ke Jakarta — ia lahir dan besar di Ujung Menteng, dari keluarga Betawi yang sudah bermukim di sana sejak beberapa generasi.
Yang membuat Bang Ade berbeda dari pedagang kerak telor lain — termasuk yang di Monas atau Kota Tua — adalah konteks tempatnya. Di Ujung Menteng, kerak telor bukan produk wisata. Ia adalah bagian dari ritme kehidupan sehari-hari kampung: anak-anak pulang sekolah beli kerak telor, ibu-ibu pesan untuk lauk malam, bapak-bapak yang baru pulang kerja mampir sambil ngobrol.
Kampung Ujung Menteng
Kawasan kampung Betawi tertua di Jakarta Pusat. Gang sempit, rumah penduduk, dan warung-warung legendaris.
Jajanan Lain Ujung Menteng
Selain kerak telor: soto Betawi, nasi uduk, gorengan, es cendol, dan jajanan kampung lainnya.
Sejarah Ujung Menteng
Dari perkampungan Betawi pra-kolonial hingga kampung kota di tengah gedung-gedung Jakarta Pusat.
Komunitas Betawi
Ujung Menteng masih menyimpan tradisi Betawi: nyekar, rwitan, dan gotong royong antar warga.